203 Nakes Usia di atas 60 Tahun di Sumsel Akan Divaksin Covid-19

Ada 203 Nakes atau SDM Kesehatan yang usia di atas 60 tahun di Sumsel akan disuntik vaksin Sinovac.

Humas RSMH Palembang
Proses vaksinansi untuk Nakes dengan usia diatas 60 tahun di RSMH Palembang, Selasa (9/2/2021). 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan emergency use authorization (EUA) atau ijin darurat penggunaan vaksin Covid-19, untuk usia diatas 60 tahun (lansia).

Untuk itu Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan segera melakukan penyuntikan vaksin Covid-19 kepada Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan lanjut usia.

"Ada 203 Nakes atau SDM Kesehatan yang usia di atas 60 tahun di Sumsel akan disuntik vaksin Sinovac," kaya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Lesty Nurainy, Selasa (9/2/2021).

Menurutnya, penyuntikan vaksinasi untuk nakes lansia tersebut sesuai arahan dari pemerintah pusat. Surat edaran dari pusat juga sudah ada.

"Surat ini ditujukan ke kepala dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota seluruh Indonesia, agar segera melakukan pendataan dan pemberian vaksinasi segera, kepada SDM Kesehatan yang berusia di atas 60 tahun," kata Lesty.

Menurutnya, jadwal vaksinasi kepada SDM kesehatan dilakukan sebelum vaksinasi tahap kedua dimulai.

Adapun jadwal vaksinasi Covid-19 tahap satu di Sumsel dimulai sejak Januari hingga April 2021.

Tahap satu tersebut diperuntukan tenaga kesehatan, petugas pelayanan publik, dan lansia.

Sementara itu, vaksinasi tahap kedua dilaksanakan pada April 2021 sampai Maret 2022.

Pada tahap ini, vaksinasi ditujukan bagi masyarakat rentan (daerah dengan risiko penularan tertinggi) dan masyarakat lainnya atau dengan pertimbangan pendekatan klaster sesuai ketersedian vaksin.

Sementara itu menurut Ahli Mikrobiologi Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed, BPOM mengeluarkan ijin itu berdasarkan uji klinis fase dua di China dan uji klinis fase tiga di Brazil.

"Yang di China kalau uji fase kedua artinya uji efikasi atau kemanjuran, dan kesimpulannya bisa. Lalu yang di Brazil kalau uji fase ketiga berarti efektivitas di masyarakat dan itu disampaikan cukup efektif," kata Prof Yuwono

Lebih lanjut Prof Yuwono mengatakan,
maka berdasarkan dua pertimbangan itu, BPOM memutuskan untuk mengeluarkan EUA untuk lansia.

"Pendapat saya semua ini memang bentuk pertimbangan leadership pimpinan, Pemerintah dalam hal ini mengambil keputusan. Ok divaksin tapi dengan catatan lebih hati-hati ketimbang usia dibawahnya," katanya.

Lebih hati-hati nya contohnya, karena lansia paling rentan terhadap Covid-19 dan pasien yang menyumbang kematian paling tinggi karena Covid-19.

Lalu lansia kondisi imunitasnya sudah penuaan, oleh karena itu pada lansia jarak suntiknya 28 hari. Sedangkan kalau dibawah itu usia itu 14 hari dari hari pertama.

"Kalau kata Menkes, baru dikeluarkan tanda kutip baru untuk Nakes. Karena Dokter senior ataupun guru besar rata-rata usianya 60-70 tahun itu. Seperti saya pensiun sampai 70 tahun," katanya.

Menurutnya, kelihatannya Pemerintah lebih berhati-hati, dan pendapat Prof Yuwono memang itu sudah tepat. Memamg harus berhati-hati sampai selesai Nakes baru lansisa pada umumnya.

"Jadi agar masyarakat bersabar jangan bertanya-tanya dulu untuk lansia ini, karena ini untuk Nakes dulu. Jadi kenapa untuk Nakes dulu, agar lebih terukur," tegasnya.

Menurutnya, untuk lansia gejala ikutan seperti demam, mual, muntah bisa lebih sering terjadi ketimbang yang mudah. Kalau itu terjadi pada dokter mereka kan tahu apa yang harus dilakukan.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved