Teliti Naskah-naskah Melayu, Majelis Reboan UIN Raden Fatah Rutin Gelar Kajian

Majelis Reboan UIN Raden Fatah Palembang rutin menggelar Kajian Reboan setiap hari Rabu.

Istimewa
Suasana diskusi Reboan studi Melayu Pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu di UIN Raden Fatah, Palembang beberapa waktu lalu. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Tim pengelola Lembaga Kajian yang biasa dikenal dengan nama Majelis Reboan Universitas Islam Negeri Raden Fatah (UIN Rafah) Palembang rutin menggelar Kajian Reboan setiap hari Rabu. 

Kajian Reboan kali ini topiknya, Kitab Hadiyatun Nisa' Karya Imam Muhammad Azhari Bin Ma'ruf.  

Program Pascasarjana UIN Rafah melakukan Kajian Manuskrip Naskah-naskah Melayu, sebagai upaya mengembangkan penelitian naskah-naskah melayu terutama naskah-naskah yang terkait dengan sejarah dan Peradaba Palembang. 

Wakil Rektor I UIN Raden Fatah Palembang Dr Muhammad Adil pada mengatakan, bahwa Lembaga Kajian Melayu atau Majelis Reboan sejak beberapa tahun ini tetapkan di Program Pascasarjana sebagai Pusat Kajian Manuskrip Keagamaan dan Peradaban Melayu. 

"Sudah ada beberapa manuskrip/naskah yang kita terjemahkan dan teliti. Tentu hasilnya kita manfaat bersama-sama baik secara kelembagaan ataupun perorangan kemudian hasil peneliti dipublikasikan," katanya beberapa waktu lalu. 

Menurut Muhammad Adil, selama ini di Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang sudah ada dan eksis melalui Majelis Reboan yang membahas tentang manuskrip. 

"Semoga majelis ini bisa dikembangkan serta disinergikan dengan lembaga-lembaga lainnya agar penelitiannya lebih dan berkembang pesat," Ujar Muhammad Adil yang juga sebagai ketua Lembaga Kajian Melayu. 

Sementara itu Pembina Lembaga Kajian Melayu UIN Raden Fatah Palembang Prof. Dr Duski Ibrahim mengatakan, bahwa berminat untuk menelusuri kembali khasanah peradaban melayu dan ingin menjadikan kembali Palembang sebagai pusat kajian melayu di dunia.

"Apalagi terkait dengan Distingsi UIN Raden Fatah, Palembang sebagai pusat peradaban Melayu," kata Prof Duski Ibrahim. 

Menurutnya, selama ini sumber naskah Palembang sangat banyak dan mulai ditemukan satu per satu.  

Sejumlah akademisi UIN Raden Fatah Palembang membentuk Majelis Reboan terkait naskah melayu yang dipusatkan di ruang diskusi Program Pascasarjana yang rutin dilakukan setiap hari Rabu. 

Lembaga Kajian tersebut telah berdiri sejak beberapa tahun yang lalu, sejak akhir 2016 dan tetap eksis hingga kini. 

Masih menurut Duski Ibrahim Adapun yang menjadi nara sumber sekaligus peserta dalam kajian tersebut diantaranya Kiyai Mal’an Abdullah, Muhammad Adil, Duski Ibrahim, SMB IV Fauwaz Diradja, Kms A.R. Panji, Masyhur, Nyimas Umi Kalsum, Abdul Azim Amin, Ahmad Syukri, Muhammad Daud, Habiburahman, Saudi Burlian, Kemas Andi Syarifuddin, Muhammad Noufal, Vebri Al-Lintanii, dan sejumlah nama lainnya. 

"Kita juga mengkaji manuskrip lama Palembang, dibandingkan dengan sumber yang selama ini telah beredar. Dicarikan titik temunya untuk analisis berikutnya," katanya.

Suasana diskusi Reboan studi Melayu Pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu di UIN Raden Fatah, Palembang beberapa waktu lalu.
Suasana diskusi Reboan studi Melayu Pascasarjana dan lembaga kajian naskah Melayu di UIN Raden Fatah, Palembang beberapa waktu lalu. (Istimewa)

Manuskrip yang sudah di kaji diantaranya silsilah raja-raja Palembang yang disalin oleh Nanang Mashri dan tarikhnya yang ditulis Raden haji Abdul Habib, naskah yang di tulis oleh Abdussomad AL-Palembani, dan hari ini melanjutkan Membahas Kitab Hadiyatun Nisa' Karya Imam Muhammad Azhari Bin Ma'ruf. 

Menurut Sejarawan Palembang Kemas Ari Panji, M.Si, awalnya kajian atau Majelis Reboan ini dilakukan bukan hari Rabu.  

"Setelah dimantapkan setiap hari Rabu maka kajian tersebut dimantapkan menjadi menjadi Majelis Reboan," katanya.

Ia berharap lembaga kajian ini bisa menjadi besar dan bisa menjadikan UIN Raden Fatah sebagai pusat kajian melayu. Apalagi lembaga kajian ini sudah di notariskan atas pendiriannya.

 "Awalnya para akademisi UIN Raden Fatah bersama sejumlah tokoh lainnya, membentuk lembaga kajian ini dan terbatas kalangan UIN Raden Fatah, sekarang sudah meluas yang menjadi nara sumber bisa diluar kalangan UIN Raden Fatah sendiri dan diluar disiplin ilmu yang ada di UIN Raden Fatah juga juga untuk memberikan masukan bagi UIN Raden Fatah sendiri terutama lembaga kajian ini," harapnya.  

Sementara itu Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Endang Rochmiatun mengatakan, Palembang-Sumatra Selatan, dahulu sebagai pusat kajian sastra Melayu Nusantara (abad ke-17 hingga abad Ke-19).  

Ikuti kami di
KOMENTAR
500 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved