Sumsel Punya Pusat Kajian Center For Creative Economy, Tourism, Inheritance and Culture (Cetic)

Pascasarjana Universitas Tamansiswa (Tamsis) Palembang melaunching Pusat Kajian Center For Creative Economy, Tourism, Inheritance And Culture (Cetic).

Tribunsumselwiki/Linda
Pascasarjana Universitas Tamansiswa (Tamsis) Palembang melaunching Pusat Kajian Center For Creative Economy, Tourism, Inheritance and Culture (Celtic) di ruang kelas Lantai II, Program Magister Ilmu Pemerintahan Program Pascasarjana Universitas Tamsis, Palembang, Selasa (10/11/2020). 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Pascasarjana Universitas Tamansiswa (Tamsis) Palembang melaunching Pusat Kajian "Center For Creative Economy, Tourism, Inheritance And Culture (Cetic).

LaunchingPusat Kajian Cetic dilakukan di ruang kelas Lantai II, Program Magister Ilmu Pemerintahan Program Pascasarjana Universitas Tamsis, Palembang, Selasa (10/11/2020).

Turuthadir Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn, Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, Ki. Dr. Azwar Agus, S.H, M.Hum, Direktur Program Pascasarjana Universitas Tamansiswa Palembang Dr Yoyok Hendarso MA, Ketua Pusat Kajian Cetic Akhmad Muftizar Zawawi  Sip Med , Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji dan lain-lain.

"Harapanya dengan adanya pusat kajian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat kota Palembang khususnya dan Sumatera Selatan (Sumsel) pada umumnya," kata Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, Ki. Dr. Azwar Agus, S.H., M.Hum.   

Lebih lanjut ia mengatakan, harapanya bisa bermanfaat untuk perkembangan masyarakat  lebih kreatif, dalam hal pariwisata, budaya dan sejarah.  

Menurutnya, belajar dari pengalaman sebelumnya kegiatan seperti pusat kajian ini bisa berjalan khususnya di kala pandemi Covid-19. 

"Memang kegiatan-kegiatan seperti ini harus didukung dan harus di fasilitasi, karena memang keberagaman budaya sejarah kita harus di promosikan," katanya.

SedangkanSMB IV berharap, dengan pusat kajian ini mudah-mudahan semakin banyak masyarakat yang memperhatikan aspek ekonomi dan budaya.

Baca juga: Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam

Tentunyaberdasarkan sejarah, sehingga ekonomi kreatif ini bisa dikembangkan bersama-sama dengan sejarah dan budaya. Hingga akhirnya bisa bermakna dan bernilai bagi masyarakat. 

"Mudah-mudahan lembaga ini bisa berjalan dan kita akan selalu suport kegiatan-kegiatan untuk pembangunan masyarakat," katanya.

Sedangkan Direktur Program Pascasarjana Universitas Tamansiswa Palembang Dr Yoyok Hendarso MA mengatakan, kalau pihaknya tidak hanya bicara pariwisata saja tapi juga bicara  sejarah, dan budaya.

"Kalau diperhatikan sejarah dan budaya di masyarakat sekarang sudah mulai menghilang. Itu dasar pertama komitmen kita  membuka dan meresmikan tadi Pusat Kajian Cetic ini," katanya. 

Menurutnya, hilangnya budaya bisa juga kearipan-kearipan lokal hilang.  Karena dari perkembangan teknologi, komunikasi yang bisa menggerus budaya-budaya lokal.

Selainitu alasan lain pihaknya membuka pusat kajian ini dimana pariwisata itu  ada kesempatan, peluang yang ditunjang oleh budaya.

"Banyakcontoh dinegara lain yang mengangkat pariwisata dengan budaya. Ini tidak bisa hanya kita bicarakan pada tingkat konsep maka harus kita realisasikan bagaimana budaya, sejarah itu bisa terkait langsung dalam rangka pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di kota Palembang maupun di Sumsel,"katanya. 

Sedagkan Ketua Pusat Kajian Cetic Akhmad Muftizar Zawawi berharap, kedepan pusat kajian ini bisa eksis dan menjadi satu-satunya rujukan. 

"Karena Palembang ini kota sejarah, harusnya kita punya. Jadi orang Palembang mau kaji apa-apa gunakan orang Palembang, orang Sumsel sendiri. Sudah saatnya kita memainkan daerah kita sendiri,"  katanya. 

Rencanakedepan bulan Desember akan menggelar webinar dengan mendatangkan pembicara, mantan duta besar Slovakia dan Thailand Dr Luthfi Rauf. 

Baca juga: Sultan Mahmud Badaruddin IV (SMB IV)

Ikuti kami di
KOMENTAR
481 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved