Mengenal Tari Sambut Sondok Piyogo dari Kesultanan Palembang Darussalam

Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) kini memiliki tarian sambut tersendiri, yang diberi nama Sondok Piyogo.

Istimewa
Tarian Sondok Piyogo 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Kesultanan Palembang Darussalam (KPD) kini memiliki tarian sambut tersendiri, yang diberi nama Sondok Piyogo.

Tari sambut Sondok Piyogo ini sudah pernah ditampilkan saat pembukaan Seminar Nasional di Auditorium Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa Palembang, Sabtu (17/10/2020).

Tarian Sondok Piyogo.
Tarian Sondok Piyogo. (Istimewa)

Menurut Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R M Fauwaz Diradja SH Mkn menjelaskan dibuatnya tari Sambut Sondok Piyogo untuk membangkitkan kearipan lokal di Sumsel terutama Palembang.

"Tarian ini dibawakan oleh  6  penari yang semuanya laki-laki yang melambangkan Rukun Iman, sedangkan secara filosofi artinya "adat dipangku syariat dijunjung" (Sondok Piyogo)," katanya, Selasa (20/10/2020).

Menurutnya, maknanya dimanapun orang Palembang berada wajib menjalankan syariat agama dan menjunjung adat Palembang. 

Tarian Sondok Piyogo.
Tarian Sondok Piyogo. (Istimewa)

Selain itu alasan penarinya diwajibkan harus laki-laki bukan perempuan, karena perempuan tidak boleh menunjukkan auratnya (walau dalam busana) dengan ditonton oleh banyak orang. 

Sedangkan alat musik hanya 2 buah yaitu terbangan dan  Bonang atau Gong. Kostumnya  dengan warna yang bercirikan Palembang Darussalam.

"Persepsi kita bahwa Kesultanan Palembang Darussalam ini pada masa lalu tabu kalau perempuan yang menari, sehingga kita buat laki-laki semua yang menari sebagai  cerminan kita ini memegang ajaran Islam," jelasnya.

Untuk itulah menurutnya gerakan tari Sambut Sondok Piyogo merupakan gerakan dari berwudhu, gerakan keseharian dan gerakan berpencak atau bertanggem.

"Tarian itu merupakan refleksi daripada  masyarakat kita pada masa itu,"  katanya.

Tarian Sondok Piyogo saat  saat tampil perdana di pembukaan Seminar Nasional dengan Tema Memahami Wisata Sejarah dan Budaya Sebagai Konsep Indonesia Negara Maju 2045,  Sabtu (17/10) di Auditorium Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa Palembang.
Tarian Sondok Piyogo saat saat tampil perdana di pembukaan Seminar Nasional dengan Tema Memahami Wisata Sejarah dan Budaya Sebagai Konsep Indonesia Negara Maju 2045, Sabtu (17/10) di Auditorium Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa Palembang. (Istimewa)

Sedangkan Pangeran Suryo Febri Irwansyah menambahkan,  kalau tari sambut Sondok Piyogo  diambil dari saripati nilai-nilai Kesultanan Palembang Darussalam.

"Dengan penari berjumlah enam orang  melambangkan rukun iman. Lalu penarinya semuanya laki-laki, karena di masa Kesultanan Palembang Darussalam agak tabu kalau perempuan menari," katanya.

Dalam tarian ini menurutnya, ada rentakan Syarofal Anam, terbangan yang biasa diarak di Palembang ada zikir, syair, shalawat,  syair  yang dibacakan dalam bahasa Palembang halus.

"Kalau kita dengar tadi kosa katanya pakai kromo inggil. Jadi tari sambut Kesultanan Palembang Darussalam  ini kami beri judul Sondok Piyogo .  Sondok Piyogo itu adalah tata krama yang jadi pedoman dengan semboyan, adat dipangku, syariat di junjung. Kalau tadi ada gerakan keatas , dijunjung maksudnya," jelasnya.

Baca juga :

Tokoh Budaya Palembang Bagikan Tips Cara Membuat Tanjak

KPD Gelar Haul Memperingati Wafatnya Sultan Mahmud Badaruddin III

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved