Penjelasan Tentang Vaksin Covid-19 dari Ahli Mikrobiologi

Pembuatan vaksin Covid-19 terus digencarkan. Bahkan beredar informasi akan ada vaksin di Desember 2020.

Tribunsumselwiki/Linda
Juru Bicara Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Pembuatan vaksin Covid-19 terus digencarkan. Bahkan beredar informasi akan ada vaksin di Desember 2020. 

Sedangkan WHO sendiri menyatakan bahwa sampai 2021 belum ada vaksin untuk Covid-19.

Lalu apakah benar vaksin Covid-19 sudah ditemukan? 

Berikut jawabnya dari wawancara Khusus Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post dengan Ahli Mikrobiologi Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed melalui Virtual Fest 2020, Kamis (9/10/2020).

Menurut Prof Yuwono,  ada 220 kandidat vaksin dari berbagai negara termasuk Indonesia. Dari 220 itu harus melalui tiga tahapan uji. 

Jadi sebelum digunakan vaksinnya diuji terlebih dahulu, mulai dari bukan ke manusia sampai ke manusia. 

"Tiga fase uji klinis itu, yang pertama uji kemanan, aman tidak untuk manusia. Lalu kedua uji kemanjuran, manjur tidak. Uji klinis ke tiga yang agak berat yaitu apakah vaksin tersebut bisa membentuk antibodi pada manusia. Sampai hari ini hanya 8-9 yang masuk di uji fase tiga," katanya.

Ia pun mengatakan, bahwa uji vaksin ini dampaknya besar, salah satunya Antibody Dependent Enhancement (ADE). 

Artinya kalau kandidat vaksin yang disuntikkan harapannya terbentuk antibodi dalam jumlah dan kualitas yang cukup. 

Nah kalau jumlah dan kualitasnya tidak cukup maka namanya ADE. Kalau sampai ADE bisa senjata makan tuan. 

Contoh nya di Oxford, dari ribuan relawan dilaporkan satu menjadi sakit setelah divaksin. Maka Oxford mengambil tindakan menghentikan pemberian vaksin. Nah itu baru bijak. 

Sedangkan di Indonesia pada saat uji coba di Bandung ada satu yang positif. Padahal sebelum diberikan vaksin dia negatif tapi setelah disuntikkan vaksin dia positif. 

Namun orang Indonesia masih banyak komprominya, sehingga ada yang bilang mungkin sudah positif sebelumnya. 

Harusnya jangan begitu. Sebab bagaimanapun juga dia terlibat dalam uji klinis vaksin tiga, maka harusnya ini layak dievaluasi. 

"Saya denger Agustus mau diluncurkan uji coba fase tiga ini, tim yang buat dipanggil presiden dan  bisa nggak dipercepat. Tim uji vaksin menyatakan tidak bisa, butuh waktu beberapa bulan. Namun baru-baru ini ada pernyataan dari tim uji vaksin, kalau relawannya dua kalilipat maka bisa dipercepat. Sebenarnya itu bukan alasannya," bebernya.

Menurutnya, vaksin itu hari ini disuntikkan maka dua Minggu di evaluasi. Lalu pengamatannya sampai berbulan-bulan, paling tidak butuh waktu dua bulan. 

"Kalaupun ini berhasil kita baru bisa dapat vaksin dipertahankan 2021. Kalau ada yang bilang akan ada vaksin di Desember 2020. Itu pernyataan buat pusing," ungkapnya.

Menurutnya, WHO saja menyatakan belum ada vaksin sampai 2021. Tiba-tiba 2020 dinyatakan akan keluar, tunggu aja. Wah ini buat jadi curiga.

Prof Yuwono mengatakan,  bahwa evaluasi harus terus dilakukan. Apalagi kesembuhan di Indonesia ini sudah 75 persen. 

Artinya orang yang sudah ada antibodi bisa menyumbang ke yang lain. Jadi sebenarnya tidak perlu terburu-buru untuk mengeluarkan vaksin. 

"Sekarang ini tidak dalam tataran urgent untuk menemukan vaksin secara buru-buru. Karena tingkat yang sembuh sudah 75 persen dan tingkat kematian secara nasional 3,7 persen," katanya.

Prof Yuwono pun membeberkan, bahwa 5 Oktober juklak sudah keluar petunjuk pelaksanaan vaksinasi masal untuk Covid-19

Jadi kayaknya memang terkesan dipaksakan, sementara yang mau divaksin belum. Ibarat buah masih mengkel belum matang. 

"Ujian pandemi ini luar biasa. Namanya manusia pengen segera keluar dari kesusahan. Dorong itu ada dan besar, namun sayangnya dorongan ini belum diimbangi dengan komunikasi yang intensif dan clear dengan stakeholder atau bidangnya masing-masing," katanya.

Menurutnya, mestinya yang diundang dokter-dokter, pakar-pakar dan lain-lain. Sedangkan ini yang diajak diskusi tim dan Pemerintah. Sedangkan pemerintah ini kan banyak yang harus dikerjakan. Kalau yang diundang pakar-pakarnya maka akan lebih baik. 

"Saya tidak bilang ini jelek, namun ini hanya bentuk keprihatinan mendalam saya. Namun harusnya sabar sebentar. Kalau tersedia Desember artinya bukan dari kita, karena dari kita belum selesai. Lalu apa kelemahannya bagi kita, ya belum tentu cocok bagi kita," cetusnya.

Prof Yowono pun menyampaikan bahwa ada guyonan yang menyatakan, silakan diberikan dulu pada pemimpin dan politisi. 

Kalau mereka selamat artinya aman, tapi kalau mereka tidak selamat maka rakyatnya selamat.

"Saya setuju dengan guyonan itu. Itu guyon tapi sangat menyinggung sekali," katanya.

Prof Yuwono pun menerangkan, kalau ujicoba yang di Bandung sudah selesai harus dipublikasikan dulu. Setelah publikasi, bahwa aman dan manjur baru di produksi masal.

Menurutnya, vaksin itu ada dua ukuran satu aman tidak, lalu manjur tidak. Kalau manjur artinya mampu membentuk antibodi lebih dari 70 persen. 

Contohnya kalau yang divaksinasi 5000 yang terbentuk antibodi 4000 jadi bagus. Tapi kalau yang divaksinasi 5000 yang terbentuk antibodi 1000 artinya tidak lolos. 

Lalu kalau sudah dipublikasikan baru bisa diberikan ke masyarakat. Biasanya distribusinya di puskesmas, sama seperti vaksin lainnya.

"Namun saya anjurkan kepada masyarakat, kalau orang yang sudah sembuh dari Covid-19 tidak perlu vaksin lagi. Orang yang sudah sembuh berarti terbentuk antibodi terhadap virus itu. Sementara kalau disuntikkan vaksin dia akan masuk jalur lain lagi," katanya 

Menurutnya, di Indonesia saja ada empat varian virus. Maka sangat mungkin ada perbedaan antibodi. Misal pada varian satu dan vaksin yang disuntikkan ternyata varian dua, maka bisa saja ada kemungkinan terjadi reaksi yang tidak diinginkan. 

Untuk itu vaksinasi ini perlu diprioritaskan, skala prioritasnya artinya yang berisiko tinggi diutamakan.

Misal anak yang kena usia 25 tahun. Artinya orang tuanya umurnya sudah 50an. Apalagi kalau orang tuanya punya penyakit bawaan, maka orang tuanya berisiko tinggi. 

Usia diatas 50, kemungkinan kematian  karena Covid-19 itu 8 persen artinya tinggi. Lebih tinggi dari anak muda, yang tingkat kematiannya sekitar 2 persen. 

Baca Juga : 

Baca juga: Apa Itu Klaster Keluarga? Ini Penjelasan dari Prof Yuwono

Baca juga: Prof Yuwono: Eucalyptus Bisa sebagai Terapi untuk Membuat Pikiran Jadi Rileks

Ikuti kami di
KOMENTAR
470 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved