Emotional Eating Bisa Berdampak Negatif Untuk Kesehatan, Ini Penjelasannya Menurut Psikologi

Emotional eating adalah perilaku makan yang lebih didorong oleh adanya perasaan atau emosi negatif, seperti stres.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Linda Trisnawati
Net.
Ilustrasi makan banyak. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Saat berada dalam keadaan tertekan, beberapa orang justru cenderung menjadi lebih banyak makan dengan dalih untuk menghilangkan stresnya. 

Menurut Psikologi di Rumah Sakit Hermina Palembang Anrilia Ema, MEd, PhD, emotional eating adalah perilaku makan yang lebih didorong oleh adanya perasaan atau emosi negatif, seperti stres. 

Kadangkala, emosi atau perasaan negatif diikuti oleh perasaan kekosongan dan ingin segera mencari kenyamanan. 

"Pada sebagian orang, makanan digunakan sebagai pengisi kekosongan ini," katanya, Rabu (8/10/2020)

Menurutnya, umumnya orang-orang seperti ini beranggapan bahwa makanan merupakan cara yang ampuh untuk mengusir rasa sedih, stress, dan membuat perasaan menjadi enak atau puas. 

Padahal, dorongan makan seperti ini biasanya bukan didasari oleh rasa lapar yang normal seperti pada umumnya. 

"Emotional eating dapat menjadi salah satu indikator bagi adanya persoalan psikologis misalnya pada gangguan depresi mayor," jelasnya.

Ia pun menjelaskan, salah satu gejalanya adalah perubahan pola makan yang berupa kehilangan nafsu makan. 

Bisa mengakibatkan pengurangan berat badan secara signifikan atau justru nafsu makan berlebihan yang menyebabkan kenaikan berat badan drastis).  

Apabila Emotional eating tidak terkendali dan terjadi secara konsisten dalam kurun waktu yang cukup lama, maka hal tersebut perlu diwaspadai. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved