Songket dan Batik Durian dari Lubuklinggau, Sudah Punya Hak Paten

Sejak dipatenkan 2015 lalu, Kota Lubuklinggau telah memproduksi songket dalam bentuk kain sarung, selendang, kain samping, tanjak/ikat kepala dan lain

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Istimewa
Songket dan Batik motif Durian khas Kota Lubuklinggau. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau mengenalkan Songket dan Batik Durian khas Kota Lubuklinggau, sebagai oleh-oleh.

Ketua TP PKK Kota Lubuklinggau, Hj Yetti Oktarina Prana mengatakan, perkembangan Songket dan Batik Durian di kota ini dimulai sejak Maret 2013 lalu.

"Lembar pertama Batik Durian khas Kota Lubuklinggau selesai dibuat dan dicetak ulang dengan metode cap dan print," katanya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, batik durian ini pertama kali dibuat dijadikan seragam untuk seluruh anggota TP PKK Lubuklinggau, sampai saat ini.

"Secara berkala telah dilaksanakan berbagai pelatihan bagi para pengrajin di Kota Lubuklinggau. Bahkan saat ini, batik dan songket motif Durian telah dikenal secara luas sampai tingkat nasional," katanya.

Batik motif Durian khas Kota Lubuklinggau.
Batik motif Durian khas Kota Lubuklinggau. (Istimewa)

Menurutnya, sejak dipatenkan 2015 lalu, Kota Lubuklinggau telah memproduksi songket dalam bentuk kain sarung, selendang, kain samping, tanjak/ikat kepala dan hiasan dinding.

Motif khas Lubuklinggau diantaranya Motif Duren Berantai, Motif Duren Cempuk, Motif Duren Dodot, Motif Tali Aer, Motif Duren Limar Cantik Manis, dan Motif Duren Kandang.

Ragam bentuk motif yang terdapat pada kain songket Lubuklinggau ini umumnya bersumber dari alam seperti flora, fauna, siku-siku yang direka-bentuk, diabstrakkan atau dimodifikasi kembali, sehingga menghasilkan motif baru.

Saat ini Songket dan Batik Durian khas Kota Lubuklinggau sudah memiliki hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM Nomor : C00201604294 tanggal 26 Oktober 2016.

Demikian juga dengan seni motif Songket Durian Berantai telah dipatenkan dengan Pemegang Hak Cipta Pemerintah Kota Lubuklinggau, pertama kali diumumkan pada 17 Oktober 2015.

Untuk motif Batik Belah Durian Lubuklinggau juga telah dipatenkan sejak 18 November 2019 dengan Nomor : EC00201982390 dan diumumkan pertama kali pada 17 Juli 2013 di Lubuklinggau dengan pemegang Hak Cipta atas nama Hj Yetti Oktarina Prana.

Sedangkan untuk Songket Motif Kopi pertama kali diumumkan pada 17 Oktober 2015 dengan nomor surat pencatatan ciptaan C00201604293 tanggal 26 Oktober 2016 pemegang hak cipta Pemkot Lubuklinggau.

Songket dan batik motof durian khas Lubuklinggau.
Songket dan batik motof durian khas Lubuklinggau. (Istimewa)

Rina pun mengungkapkan, dalam kurun waktu setahun Dekranasda Kota Lubuklinggau berhasil memasarkan produknya di Jakarta dengan melaksanakan MoU bersama Sugiarta Yasa selaku President Director Sarinah Indonesia di Lantai 10 Gedung PT Sarinah Jl. M. H. Thamrin No. 11, RT.8/RW.4, Gondangdia, Menteng, Central Jakarta City, Jakarta 10350, Indonesia, Kamis pada 12 Oktober 2019 lalu.

"Insya Allah produk binaan kita akan segera dijual dan dipamerkan di Gerai Plaza Sarinah Thamrin," bebernya

Rina mengaku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau Songket Durian yang dikembangkan beberapa tahun terakhir berhasil mencuri perhatian secara nasional.

Bahkan daya tarik Songket Durian yang memiliki delapan varian motif tersebut semuanya sudah dilengkapi dengan "Sertifikat Paten".

Rina menyebutkan, harga batik ini tergolong terjangkau kisaran Rp 150 hingga Rp 200 ribu, sedangkan untuk kain songket durian yang kini telah dijual hingga ke Sarinah Plaza dengan harga berkisar Rp 2,5 juta hingga yang termahal Rp 3,5 juta.

Bahkan Ketua Dekranasda Sumsel, Hj Feby Deru pun mengaku sangat puas menyaksikan penampilan Dekranasda Kota Lubuk Linggau yang terpilih mewakili Provinsi Sumsel dalam ajang peragaan busana pada Pameran Kriyanusa hari kedua di Balai Kartini Jakarta, Kamis (12/9/2019) lalu.

Rina berharap semangat Dekranasda kota Lubuk Linggau tersebut dapat menginspirasi kabupaten/kota lainnya di Sumsel untuk lebih termotivasi mengembangkan kain tradisional dan kerajinan mereka di daerah.

Baca Juga :

Cerita Kampung Tenun Songket di Desa Muara Penimbung, Hasilkan Puluhan Songket Setiap Bulan

Gelaran Tenun Songket dan Batik Nusantara Bangkit Bersama UMKM Diadakan di Atrium PIM

Ikuti kami di
KOMENTAR
428 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved