Simak Penjelasan Ahli tentang Cara Menghitung Tingkat Kematian Positif Covid-19

Dari 100 orang yang positif Covid-19 yang kemungkinan meninggal hanya 2-4 orang.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Kompas.com
Foto Ilustrasi. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Virus corona atau Covid-19 nama lainnya SARS Cov 2.

Kalau namanya SARS Cov 2, artinya ada SARS Cov 1.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Sumatera Selatan (Sumsel) Prof Dr dr Yuwono, M Biomed mengatakan, SAR CoV 1 muncul 2002.

"Lalu 18 tahun setelah itu munculah SARS CoV 2 yang disebut Novel yang artinya benar-benar baru dan berbeda dari asal muasalnya," katanya, Jumat (24/4/2020).

Namun menurutnya, SAR CoV 1 beda dengan SARS CoV 2.

Bedanya yaitu SARS CoV 1 fatal dari 100 orang yang meninggal 35.

Sedangkan SARS CoV 2 yang meninggal hanya dua sampai empat, tapi SARS CoV 2 ini penularanya ratusan kali lebih hebat dari SARS CoV 1.

Juru Bicara Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed.
Juru Bicara Covid-19 Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed. (Tribunsumselwiki/Linda)

"Masalahnya adalah adanya perubahan pada diri virus ini di dua sampai empat asam amino di virus tersebut. Cuma karena perubahan itu atau mutasi itulah yang menyebabkan mudah menyebar," bebernya.

Lalu apakah perubahan mutasi tadi disengaja apa alami?

Nah data yang diminta di Wuhan bukan tentang perubahan mutasi ini melainkan berkaitan dengan geno typing dan di Wuhan sekarang sudah melakukan uji klinis vaksin.

Uji klinis ada dua, yaitu uji keamanan dan sudah berhasil.

Lalu uji kemanjuran bahkan ada orang usia 80 tahun ikut uji, karena ini dinyatakan aman.

Itulah Presiden Donald Trump mengatakan China menutupi data, sehingga memenangkan kompetisi untuk mendapatkan vaksin.

Jadi jangan salah yang ditanyakan itu bukan asal muasal dari virus melainkan tentang vaksin.

"Nah cara menghitung potensi virus ini. Misalnya dari 100 orang yang positif yang kemungkinan meninggal 2-4 orang," katanya.

Begini penjelasannya, 100 orang yang positif yang betul-betul tidak sakit potensinya 65.

Lalu 25 orang mungkin memiliki gejala ringan, dan ini pun tidak perlu ke rumah sakit.

Tapi 10 nya mungkin sakit, karena di 10 ini 3 nya bisa sakit berat dan 7 nya sakit kritis.

"Indonesia positif 7000 diperiksa belum 50.000. Kalau hitungan saya harusnya diperiksa 500.000 atau setengah juta," katanya.

Makanya Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan mentarget menambah 40 laboratorium untuk ikut memeriksa dengan target se-Indonesia 20.000 per hari, untuk mengejar tadi.

"Kalau makin banyak diperiksa maka akan makin tenang. Tinggal kelompok mana masuknya tergantung masih-masing orang," katanya.

Lalu pandemi ini akan berakhir jika yang meninggal semakin menurun sampai dua minggu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, yang harus dilihat untuk berakhirnya pandemi itu tingat kematian.

Misalnya kalau pusat bilang jumlah hari ini yang bertambah positif sekian, itu jangan dipedulikan tapi yang harus dicermati berapa yang meninggal pada hari itu.

"Jadi kalau yang meninggal semakin turun dan bisa bertahan sekitar dua minggu itu tanda akan berakhirnya pandemi ini," ungkapnya.

Ia pun mencontohkan, Indonesia masih setatus naik tinggi kematiannya, di tanggal 19 April 2020 ada 46.

Lalu empat hari terakhir ini mulai menurun, paling tinggi yang meninggal jumlahnya 26.

Harapannya kalau ini bisa bertahan sampai dua minggu kedepan kemungkinan akan berakhir pandemi ini.

"Jawabnya saya bukan sembarang, contohnya Italia itu pemimpin dan rakyatnya agak lega karena tertinggi di Italia itu hampir 1000. Sekarang lebih dua minggu ini diangka berkisar 400. Jadi menunjukkan bahwa tidak menunjukkan lagi angka kematian 1000 per hari.
Nah yang khawatir Amerika, karena masih terus naik. Tapi Italia sudah turun," katanya.

Ia pun berpesan, jadi yang dilihat jumlah kematiannya bukan positifnya, kalau makin banyak positifnya ya bagus artinya makin jelas penyebaranya.

Lalu untuk di Sumsel bisa berakhir kalau kondisi idealnya tercipta. Kondisi idela adalah orang Sumsel jangan keluar dan orang luar jangan masuk.

Kalau kondisi ideal maka akan segera berakhir.

Tapi menurutnya, masalahnya sapa yang bisa seperti itu, contoh kemarin ada saudara-saudara kita perwira itu ada yang positif, sehingga masuk yang positif dalam jumlah besar.

Harusnya konsekuensi ketika di tes di Sukabumi hasilnya negatif jangan dipulangkan diisolasi dulu di sana 14 hari baru dipulangkan.

Jadi ini ngulangnya kan di Palembang.

"Artinya kita tidak bisa jaga kondisi ideal. Jadi yang pelu dijaga jangan sampai ada yang masuk kelompok penyakit kritis dan bisa menyebabkan kematian," cetusnya

Menurutnya, kalau itu bisa dijaga dalam waktu sebulan ini ya mudah-mudahan sesuai dengan siklus grafiknya maka akhir Mei akan sampai puncak.

Kalau sampai puncak artinya tinggal turun.

Seperti di China, dimulai awal Januari begitu 19 Februari akselerasi, lalu 28 Maret sampai puncak.

Dan awal April mulai membuka daerah Wuhan.

Bukan berarti sekarang tidak ada, masih ada tapi grafiknya jadi di bawah.

"Jadi intinya sekarang ini memang kita sedang naik tapi harapannya untuk tingkat kematian semakin menurun," katanya.

Lalu terkait Presiden Jokowi berharap pada Juli kondisi ini akan mulai menurun.

"Ya cocok saja, karena tentunya beliau ngomong begitu disupport semua ahli termasuk Menteri Kesehatan," katanya.

Grafik pertama datar dibawah, akselerasi lalu datar di atas.

Nah maksud Pak Presiden tadi datar di atas, kalau datar di atasnya Juli sesuai.

Lihatlah grafik jangan di cek liner tapi di logaritma. Jadi pernyataan itu memang berdasar.

Baca Juga

Pemuda Pancasila Sarankan Pemerintah Sumsel Lakukan Pengawasan kepada Masyarakat Lebih Diperketat

Mengenal Bilangan Angka dalam Budaya Melayu Palembang, Begini Angka dan Penyebutannya

Ikuti kami di
KOMENTAR
311 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved