Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

AJI secara nasional sudah ada sejak 1994. Dari awalnya beranggotakan 500 orang kini sudah menjadi 1.800 anggota.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Instagram @aji_palembang
Aliansi Jurnalis Independen (AJI). 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) secara nasional sudah ada sejak 1994. Dari awalnya beranggotakan 500 orang kini sudah menjadi 1.800 anggota.

Sejarah AJI

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) lahir sebagai perlawanan komunitas pers Indonesia terhadap kesewenang-wenangan rezim Orde Baru.

Mulanya adalah pembredelan Detik, Editor dan Tempo, 21 Juni 1994.

Ketiganya dibredel karena pemberitaannya yang tergolong kritis kepada penguasa.

Tindakan represif inilah yang memicu aksi solidaritas sekaligus perlawanan dari banyak kalangan secara merata di sejumlah kota. 

Berdirinya AJI

Gerakan perlawanan terus mengkristal.

Akhirnya, sekitar 100 orang yang terdiri atas jurnalis dan kolumnis berkumpul di Sirnagalih, Bogor, 7 Agustus 1994.

Pada hari itulah mereka menandatangani Deklarasi Sirnagalih.

Inti deklarasi ini adalah menuntut dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI. 

Masa Orde Baru

Pada masa Orde Baru, AJI masuk dalam daftar organisasi terlarang.

Karena itu, operasi organisasi ini di bawah tanah.

Roda organisasi dijalankan oleh dua puluhan jurnalis-aktivis.

Untuk menghindari tekanan aparat keamanan, sistem manajemen dan pengorganisasian diselenggarakan secara tertutup.

Sistem kerja organisasi semacam itu memang sangat efektif untuk menjalankan misi organisasi, apalagi pada saat itu AJI hanya memiliki anggota kurang dari 200 jurnalis. 

Selain demonstrasi dan mengecam tindakan represif terhadap media, organisasi yang dibidani oleh individu dan aktivis Forum Wartawan Independen (FOWI) Bandung, Forum Diskusi Wartawan Yogyakarta (FDWY), Surabaya Press Club (SPC) dan Solidaritas Jurnalis Independen (SJI) Jakarta ini juga menerbitkan majalah alternatif Independen, yang kemudian menjadi Suara Independen. 

Gerakan bawah tanah ini menuntut biaya mahal.

Tiga anggota AJI, yaitu Ahmad Taufik, Eko Maryadi dan Danang Kukuh Wardoyo dijebloskan ke penjara, Maret 1995.

Ikuti kami di
KOMENTAR
312 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved