Museum Negeri Sumatera Selatan

Museum Negeri Sumsel ini merupakan museum umum tempat menyimpan berbagai macam koleksi menarik yang tersimpan dan dipamerkan.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Tribunsumselwiki/Linda
Museum Balaputra Dewa Palembang atau Museum Negeri Provinsi Sumsel, yang terletak di Jalan Srijaya KM 5, Rabu (18/3/2020). 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) atau yang dikenal juga dengan sebutan Museum Balaputera Dewa terletak di Jalan Srijaya I nomor 288 KM 5,5 Kota Palembang.

Informasi

Museum Negeri Sumsel ini diresmikan pada tanggal 5 November 1984 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili oleh Direktur Jendral Kebudayaan, Prof Dr Haryati Soebadio.

Pada saat diresmikan museum ini belum memiliki nama hingga muncul pemikiran pemberian nama "Balaputera Dewa", seorang raja yang membawa Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya.

Museum Negeri Sumsel ini memiliki luasan 23,565 meter persegi.

Jam operasional

Untuk jam operasional, Selasa - Kamis dan Jumat mulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB .

Lalu Sabtu dan Minggu mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Tiket masuk dewasa Rp 2000 dan anak-anak Rp 1000.

Senin dan hari libur nasional tutup.

Visi dan Misi

Visi

Profesional dalam pelayanan dan penyajian, optimal dalam memfungsikan museum sebagai tempat penelitian, pendidikan dan rekreasi edukatif kultural.

Misi

1. Mengembangkan organisasi museum
2. Meningkatkan keterampilan dan kemampuan tenaga fungsional (pamong budaya)
3. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana museum
4. Meningkatkan fungsionalisasi museum
5. Meningkatkan bimbingan edukatif kultural
6. Meningkatkan pelayanan kepada pengunjung
7. Dan meningkatkan kerjasama dengan organisasi dan instansi terkait.

Museum Negeri Sumsel

Museum Negeri Sumsel ini merupakan museum umum tempat menyimpan berbagai macam koleksi menarik yang tersimpan dan dipamerkan.

Untuk penyimpanan dan tempat pameran ada beberapa tempat seperti Taman Megalith, Gedung Pameran Tetap (I, II dan III), Bangsal Arca, Rumah Limas dan Rumah Ulu.

Suasana di Museum Negeri Sumsel, Selasa (17/3/2020).
Suasana di Museum Negeri Sumsel, Selasa (17/3/2020). (Tribunsumselwiki/Linda)

Taman Megalith

Kepercayaan akan adanya hubungan antara hidup dan mati menghasilkan suatu tradisi yang disebut "Tradisi Megalitik", telah menghasilkan benda-benda yang erat kaitannya dengan perwujudan arwah nenek moyang.

Pada masa Megalitik, masyarakat sudah melakukan hal-hal religius seperti pemujaan terhadap leluhur yang merupakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, dengan didirikanlah bangunan megalith untuk penghubung pada roh-roh nenek moyang.

Arca ibu mendukung anak adalah salah satu tinggalan masa Megalitik, menggambarkan seorang wanita (ibu) dalam posisi berjongkok sedang mendukung anak di punggung yang melambangkan kesuburan.

Bangsal Arkeologi

Pada Bangsal Arkeologi ini ditampilkan 12 koleksi dari dua periode yaitu delapan koleksi arca Pra Sejarah dan empat koleksi arca tinggal dari masa kerajaan Sriwijaya (arca Hindu dan Budha).

Salah satu koleksi masterpiece yang ada di bangsal Arkeologi yaitu Arca Batu Gajah dari masa pra sejarah yang ditemukan di Kota raya Lembak Pagaralam tahun 1929 diperkirakan abad 1 Masehi.

Arca Budha Un Finish berasal dari Desa Bingin Jungut Kabupaten Musi Rawas yang dipahatkan pada posisi bersila dengan sikap mundurnya memperlihatkan telapak tangan terbuka yang jari-jari menghadap keatas (Witarkamudra)

Arca Nandi merupakan peninggalan agama Hindu sebagai kendaraan (Wahana) dewa Siwa berwujud seekor lembu yang sedang mendekam.

Rumah Limas

Rumah limas merupakan rumah tradisional Sumsel.

Sebagian masyarakat menyebutnya dengan Rumah Bari.

Rumah limas ini ada di Museum Negeri Sumsel.

Rumah limas ini belum diketahui secara pasti kapan pertama kali dibuat.

Namun secara umum dapat dikatakan rumah limas ada sejak masa Kesultanan Palembang (pertengahan tahun 1550 hingga 1823 Masehi) dan pada awalnya merupakan milik warga keturunan Arab.

Rumah Limas yang ada di Museum Negeri Provinsi Sumsel, Rabu (18/3/2020)
Rumah Limas yang ada di Museum Negeri Provinsi Sumsel, Rabu (18/3/2020) (Tribunsumselwiki/Linda)

Dalam rangka pelestarian benda cagar budaya melalui Bidang Kepurbakalaan Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumsel, dipindahkan Rumah Limas tersebut ke Museum Balaputera Dewa tahun 1985.

Pada tanggal 29 Agustus 1995 Museum Balaputera Dewa mendapatkan kunjungan kepala negara Belanda, Ratu Beatrix dan Pangeran Clans beserta rombongan yang berkenan melihat bangsal arca dan Rumah Limas.

Bahkan Bank Indonesia mengabadikan Rumah Limas Tradisional Sumsel ini dalam pecahan uang kertas Rp 10 ribu.

Rumah Ulu

Rumah Ulu merupakan rumah tradisional yang berkembang di daerah uluan (hulu sungai Musi).

Rumah Ulu koleksi museum ini berasal dari Desa Asam Kelat, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Ada beberapa proses tahapan pembangunan Rumah Ulu ini, dimulai dari persiapan yang meliputi pemilihan lokasi dan pemilihan bahan serta tahap pembangunan.

Rumah Ulu ini diserahkan ke Museum pada tanggal 20 November 1992, yang diperkirakan hingga kini berumur kurang lebih 200 tahun.

Informasi

Sumber : Kepala UPTD Museum Negeri Provinsi Sumsel H. Chandra Amrayadi SH.

Baca Juga :

Melihat Rumah Limas di Museum Nasional Provinsi Sumsel

SMB IV Inginkan Belanda Kembalikan Manuskrip Palembang

Ikuti kami di
KOMENTAR
260 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved