Ini Khasiat Daun Kelor Menurut Seorang Ahli

Kandungan nutrisi kelor ini lebih banyak dibandingkan yang lain. Contohnya, kelor itu ada 90 senyawa nutrisi.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Tribunsumselwiki/Linda
Dokter Umum sekaligus Pengiat Kelor dr. Hj Ria Anindita Meidina M.Kes. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Gabungan penelitian kedokteran Universitas Indonesia (UI), farmasi UI dan IPB merilis tanaman kelor, jambu merah dan kulit jeruk juga berpotensi mencegah virus corona.

Dokter Umum sekaligus Pegiat Kelor dr Hj Ria Anindita Meidina MKes mengatakan, memang benar jambu biji merah, kulit daun jeruk dan kelor mampu mencegah virus corona.

"Dari hasil penelitian bahwa hasilnya ada dinamakan senyawa protein dari senyawa protein itu ada yang terkandung hesperidin, rhamnetin, kaempferol, kuersetin, dan myricetin," kata Ria, Senin (16/3/2020).

Lebih lanjut ia mengatakan, hesperidin ini bisa didapatkan dari biji jambu merah, kulit jeruk dan kelor.

Sebenarnya kelor itu sudah lama diketahui banyak khasiatnya.

Nutrisinya banyak, contohnya di dalam penelitian ada kaempferol nah itu ada di kelor.

Kandungan nutrisi kelor ini lebih banyak dibandingkan yang lain.

Contohnya, kelor itu ada 90 senyawa nutrisi.

Tanaman yang paling banyak nutrisinya seperti zeatin yang memang sudah diteliti secara alami itu bisa untuk virus misal meminimalisir gejela pernafasan.

Lalu kaempferol untuk menangkal virus.

Jadi selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang seperti ada vitamin a, b, c, vitamin yang larut dalam lemak maupun yang tidak larut dalam lemak dan ada juga 9 asam amino esensial dalam tubuh, itu semua ada ada di dalam daun kelor.

Kemudian ada 46 macam antioksidan, sedangkan dalam pencegahan virus corona ini adalah daya tahan tubuh.

"Maka bagaimana kita menyiapkan antibodi di dalam tubuh kita sendiri, ya cara nya bisa dengan mengkonsumsi kelor secara teratur dan dikonsumsi secara benar," bebernya.

Kelor ini ada juga yang sudah bentuk kapsul, serbuk dan lain-lain.

Kalau yang mau diolah secara langsung untuk dikonsumsi juga bisa.

Menurutnya, hampir sedikit orang mengenal budidaya kelor.

Padahal seharusnya setiap rumah ada tanaman kelor.

Kelor ini bisa dibuat sayur bening, dibuat tekwan, campuran dalam telur dan lain-lain.

Bahkan kalau di OKU itu ada juga cendol kelor.

Nah kalau mau dimasak caranya didihkan air dan baru masukan daun kelor nya, lalu matikan.

Ini hanya untuk satu kali konsumsi, tidak boleh dipanaskan lagi.

Bisa dikonsumsi daunnya ataupun airnya.

Jadi daun kelor itu sama seperti daun katu agak wangur.

Rasanya mirip kayu dan tidak pahit.

WHO pun menganjurkan daun kelor ini untuk anak-anak yang kurang gizi.

"Kalau kita punya tanaman kelor, petik tidak boleh lebih 4 jam lalu di olah," katanya.

Misalnya, dijadikan teh bisa dikeringkan dengan cara ditutupi alas hitam dan dijemur, tapi tidak boleh langsung kena matahari.

Setelah tiga hari kering kalau mau dijadikan serbuk atau bubuk bisa dihaluskan.

Kalau yang tidak suka bubuk, daun yang kering juga bisa langsung diseduh.

"Kalau kita contohkan 100 gram kelor kering vitamin A nya saja bisa 4 x lipat dibandingkan kita mengkonsumsi wortel. Jadi 100 gram sehari sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari kita," jelasnya.

Nah cara menanam kelor ini cukup mudah. Bisa dengan bijinya disemai, 15 hari sudah berbentuk kecambah.

"Bahkan saya selalu mensosialisasikan ke OPD di Pemprov Sumsel, keluarga dan lingkungan sekitar untuk mengkonsumi daun kelor ini. Bahkan kalau bisa setiap rumah ada," katanya.

Menurutnya, memang agak susah menghilangkan image terhadap kemistisan kelor yang dianggap untuk membuang jin-jin halus.

"Namun setelah diteliti ternyata memang bisa membuang bakteri-bakteri kecil. Bahkan di dunia juga mengakui itu miracel tree," bebernya.

Baca Juga :

Cara Membuat Pindang Iga Sapi Yang Enak dan Segar

Pasar Kuto Ditetapkan Sebagai Destinasi Wisata Kuliner Durian di Palembang

Ikuti kami di
KOMENTAR
252 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved