Cerita Rumah Limas 100 Tiang di Desa Sugih Waras

Di OKI tepatnya di Desa Sugih Waras, Kecamatan Teluk Gelam ada tempat wisata namanya Rumah Limas 100 Tiang.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Dokumen Tribun Sumsel.
Rumah Limas 100 Tiang yang ada di Desa Sugih Waras. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Ogan Komering Ilir (OKI) merupakan kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Di OKI tepatnya di Desa Sugih Waras, Kecamatan Teluk Gelam ada tempat wisata namanya Rumah Limas 100 Tiang.

Rumah Limas 100 Tiang ini, memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri karena memiliki pondasi dan penyangga sebanyak 100 tiang.

Bahkan Rumah Limas 100 Tiang ini memiliki nilai sejarah dan menyimpan kisah unik dibalik pembuatannya.

Meski telah berdiri ratusan tahun, rumah tersebut hingga kini masih ada dan dipelihara dengan baik oleh warga setempat untuk kunjungan wisatawan.

Rumah Limas 100 Tiang yang ada di Desa Sugih Waras.
Rumah Limas 100 Tiang yang ada di Desa Sugih Waras. (Dokumen Tribun Sumsel.)

Sejarawan Kabupaten OKI Yuslizal menjelaskan bagaimana asal muasal adanya Rumah Limas 100 Tiang.

Menurutnya rumah tersebut dibangun oleh seorang raja demi mendapatkan restu dari orangtua sang calon mempelai wanita.

"Zaman dahulu pemimpin wilayah dipegang oleh pangeran, dalam artian pemerintah masih dalam bentuk kerajaan," katanya.

Seperti di daerah OKI, pada masa itu setiap wilayah atau marga dipimpin oleh pejabat yang disebut Pangeran.

Ia pun menceritakan, kisah pernikahan putra dari Pangeran Rejed dan putri dari Pangeran Ismail menjadi latar belakang pembangunan Rumah 100 Tiang yang merupakan syarat pinangan putra dari Pangeran Rejed.

"Pangeran Rejed ini berkuasa di daerah Sugih Waras yang merupakan daerah bagi kekuasaan marga Bengkulah pada tahun 1716," jelasnya.

Baca Juga :

Wisata Di Rumah Limas Palembang, Pengunjung bisa Foto dengan Pakaian Adat

Lalu, sekitar abad ke-18 putranya yang bergelar Depati Malian berniat meminang gadis keturunan ningrat yaitu putri dari Pengeran Ismail Suku Kayuagung.

Mendengar kabar tersebut, pangeran Ismail mempunyai permintaan pada Pengeran Rejed, apabila akan menjadikan putrinya menantu maka tempatkan putrinya pada tempat yang layak, rumah berukuran besar yang dibangun dari kayu unglen dan lain-lain.

"Tak hanya itu, Pangeran Ismail juga meminta syarat supaya tiang rumahnya harus berjumlah 100 buah yang juga terbuat dari jenis kayu serumpun berupa unglen," jelasnya.

Karena ingin memberikan yang terbaik bagi putranya, maka Pangeran Rejed menyanggupi dan ia langsung mendatangkan arsitek dari Cina dan juga dari Arab untuk membangun rumah tersebut.

"Namun sayang, para arsitek yang didatangkan tidak mampu menyelesaikan rumah tersebut dalam waktu sepuluh tahun," bebernya.

Disebutkannya jika Pangeran Rejed selalu tidak pernah merasa puas dengan hasil yang dikerjakan oleh para arsitek.

"Sehingga para ahli atau arsiteknya tidak kuasa meneruskan keinginan Pangeran Rejed. Maka dengan hasil yang sudah setengah jadi, dan arsitek selalu berganti ganti," ungkapnya.

Namun faktor kasulitan adalah mengenai ornamen rumah yang harus semuanya diukir, baik ukir timbul 3 dimensi maupun ukir dalam bentuk lukisan.

Ikuti kami di
KOMENTAR
241 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved