Makam Ki Gede Ing Suro

Komplek pemakaman Ki Gede Ing Suro merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Palembang.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Ami Heppy
Tribunsumselwiki/Linda
Pengujung berfoto di Makam Ki Gede Ing Suro. 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Kompleks pemakaman Ki Gede Ing Suro merupakan salah satu cagar budaya yang ada di Palembang.

Makam Ki Gede Ing Suro ini ada di Jalan Ratu Sianum Lorong H Umar, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II Paembang.

Informasi

Ki Gede Ing Suro merupakan putra Ki Gede Ing Lautan, satu diantara 24 bangsawan dari Demak yang datang ke Palembang.

Mereka memilih keluar dari kesultanan tersebut saat terjadi kekacauan dikerajaan Islam terbesar di pulau Jawa itu.

Ki Gede Ing Suro memilih pindah ke Palembang dan memulai kehidupannya sendiri sebagai pemimpin di kota pelabuhan tua, bekas kedatuan Sriwijaya.

Untuk bisa masuk ke kompleks Ki Gede Ing Suro'>Makam Ki Gede Ing Suro ini gratis tidak dipungut biaya.

Namun di sini hanya ada makam dan tak ada pemandangan lainnya.

Komplek Makam Ki Gede Ing Suro.
Komplek Makam Ki Gede Ing Suro. (Tribunsumselwiki/Linda)

Sejarah

Kompleks pemakaman Ki Gede Ing Suro sebelumnya dikenal sebagai situs keagamaan.

Kompleks ini berasal dari abad ke-16.

Ceritanya, Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V.

Raden Fatah lahir dari Putri China yang disebut Putri Champa, setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putra Brawijaya, Ariodamar atau Ario Dillah.

Setelah dewasa Raden Fatah bersama Raden Kusen, Putra Ario Dillah dengan Putri China dikirim kembali ke Majapahit.

Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan untuk menetap di Demak atau Bintoro.

Sedangkan Raden Kusen diangkat sebagai Adipati di Terung.

Lalu terjadi penyerbuan terhadap Majapahit, dan Raja Brawijaya V menyingkir hingga kemudian mangkat.

Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit.

Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan Ngampel Denta (wali tertua dalam Walisongo) menetapkan Raden Fatah sebagai Raja Jawa menggantikan ayahnya.

Raden Fatah wafat sekitar tahun 1518 Masehi (M) digantikan putranya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat tahun 1521 M.

Ikuti kami di
KOMENTAR
169 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved