Legenda Kampung Kapitan Tempat Keturunan Tionghoa Pertama Kali di Palembang

Kampung Kapitan merupakan tempat keturunan Tionghoa pertama kali di Palembang. Kampung Kapitan ini kini menjadi tempat wisata di Palembang.

Tribunsumselwiki/Linda
Kampung Kapitan 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Kampung Kapitan merupakan tempat keturunan Tionghoa pertama kali di Palembang. Kampung Kapitan ini kini menjadi tempat wisata di Palembang, yang ada di tepi Sungai Musi atau di Jalan KH. Azhari Kelurahan 7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang.

Kampung Kapitan ini letaknya juga bersebelahan dengan Pasar 7 Ulu dan kalau dari atas Jembatan Ampera, Kampung Kapitan ini juga bisa dilihat. Kampung Kapitan merupakan area pemukiman seluas 165,9 × 85,6 meter, berada di tengah pemukiman padat di tepi Sungai Musi dan bersebelahan dengan Benteng Kuto Besak. 

Baca Juga : Kampung Kapitan

"Kampung Kapitan merupakan pemukiman khas etnis Cina Palembang pada masa lalu yang merupakan tempat tinggal Kapitan Cina dan keluarganya," kata Hulu balang Kampung Kapitan, Karim saat ditemui Tribunsumsel Wiki beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, bangunan inti dari kediaman Kapitan ini meliputi tiga buah rumah yang terdiri dari dua rumah tinggal yang mengapit rumah utama, sebagai tempat diadakannya pesta dan pertemuan.

Bangunan di Kampung Kapitan
Bangunan di Kampung Kapitan (Tribunsumselwiki/Linda)

Awal munculnya Kampung Kapitan adalah saat runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan munculnya Dinasti Ming (Cina) pada abad XIV.

Padamasa itu Kerajaan Cina membentuk lembaga dagang yang salah satunya berpusat di Palembang, sehingga banyak pedagang Cina yang kemudian menetap dan menikah dengan gadis Palembang. Salah satu kepala kantor dagang Cina yang terkenal adalah Liang Taow Ming.

Di masa kolonial Belanda mengangkat perwira Cina berpangkat Mayor untuk mengatur wilayah 7 Ulu, yang dikenal sebagai Mayor Tumenggung dan Mayor Putih.

Baca Juga : Ribuan Pengunjung Padati Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang

Setelah itu jabatan itu diwariskan secara turun temurun kepada pewarisnya hingga akhirnya dijabat oleh Tjoa Kie Cuan (1830) dan kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Tjoa Ham Hin yang diangkat menjadi kapten Cina pada tahun 1855.

"Semula Kampung Kapitan ini komplek pemukiman yang terdiri atas beberapa bangunan. Namun saat ini yang tersisa hanyalah dua bangunan rumah. Bangunan yang tersisa berbentuk rumah panggung yang dipadukan dengan gaya kolonial," bebernya.

Isi di dalam Rumah Abu yang ada di Kampung Kapitan
Isi di dalam Rumah Abu yang ada di Kampung Kapitan (Tribunsumselwiki/Linda)

Menurutnya, bagunan yang sudah berusia lebih dari 300 tahun ini agak kurang terurus, baik pada bagian luar dan dalam interior bagunan.

Untukperabotan kuno yang masih dapat ditemui hanyalah menja abu, altar sembahyang dan beberapa foto Kapitan. Sedangkan yang lainnya hanya replika saja.

Sebab walaupun sudah ditetapkan sebagai tempat wisata, masih tetap keturunannya yang mengurus dengan dibantu biaya tiket masuk.

Pemerintahterlihat kurang membantu pengelolaan dan promosi. Begitu juga swasta yang tidak banyak mendukung CSR.

  Baca Juga : Lima Replika Landmark Dunia Ini Ada di TWA Punti Kayu Palembang

"Kampung Kapitan yang dibangun sejak 1644 ini kini diteruskan oleh generasi ke 13. Namun sayangnya keturunan Tjoa Ham Hin banyak merantau ke luar Palembang. Meskipun begitu Kampung Kapitan ini tetap dibuka untuk umum sebab ada saya yang menjaganya," katanya.

Ia pun menambahkan, untuk di halaman Kampung Kapitan ada Pagoda dari Taiwan. Pagoda ini diberikan sebagai hadiah oleh Menteri Budaya di Taiwan dari bangsa Xiang Chu Tiongkok sebagai apresiasi penghargaan terhadap leluhur suku Tionghoa.

Pagoda yang ada di depan Kampung Kapitan
Pagoda yang ada di depan Kampung Kapitan (Tribunsumselwiki/Linda)

Kampung Kapitan ini buka setiap hari, mulai pukul 9.00 WIB hingga 17.00 WIB. Kampung Kapitan ini ramai dikunjungi ketika Cap Go Meh.
Untuk harga tiket masuk hanya Rp 5000 per orang.

BagiAnda yang ingin menyewa pakaian untuk berfoto seperti pakaian kebaya juga tersedia di sini, bayarnya hanya sukarela saja.

Baca Juga :

Ribuan Pengunjung Padati Bayt Al Quran Al Akbar Terbesar Di Dunia

Ikuti kami di
KOMENTAR
76 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved