Pesona Kain Jumputan, Penggemar Mancanegara lebih Suka Jumputan dengan Pewarna Alami

Pewarna alami yang digunakan untuk membuat jumputan berasal dari Gambir, serbuk Mahoni, serat Secang, daun Indigo Vera dan lain-lain.

Tribunsumselwiki/Linda
Produk jumputan dengan pewarna alami 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Kota Palembang memiliki beragam kain tradisional atau kain khas seperti kain songket, jumputan, blongsong dan lain-lain.

Kain-kain dari Palembang ini sudah cukup dikenal di berbagai negara seperti Amerika, Singapura dan lain-lain.

"Kalau pasar mancanegara itu lebih suka yang menggunakan pewarna alami atau go green," kata Owner Galeri Wong Kito, Anggi Fitrilia saat dibincangi Tribun Sumsel di Galeri Wong Kito, Jalan Srijaya Negara, lorong Setiawan nomor 404, Kelurahan Bukit Lama Kecamatan Ilir Barat I Palembang, Senin (16/12/2019)

Anggi yang sudah memulai usaha jumputan sejak 2013 pun mengatakan, bahwa awalnya ia memulai usaha jumputan ini dengan bahan pewarna tekstil.

Namun seiring dengan permintaan pasar yang lebih suka dengan pewarnaan alami maka mulai 2015 ia menggunakan pewarnaan alami.

Terlebih untuk pasar mencanegara menurutnya mereka lebih suka yang menggunakan pewarna alami.

Begini Proses Pembuatan Kain Jumputan dengan Pewarnaan Alami

Owner Galeri Wong Kito, Anggi Fitrilia saat memberikan pelatihan membuat jumputan kepada TP PKK Kota Palembang dan IKM Palembang di Galeri Wong Kito, Jalan Srijaya Negara, lorong Setiawan nomor 404, Kelurahan Bukit Lama Kecamatan Ilir Barat I Palembang, Senin (16/12/2019)
Owner Galeri Wong Kito, Anggi Fitrilia saat memberikan pelatihan membuat jumputan kepada TP PKK Kota Palembang dan IKM Palembang di Galeri Wong Kito, Jalan Srijaya Negara, lorong Setiawan nomor 404, Kelurahan Bukit Lama Kecamatan Ilir Barat I Palembang, Senin (16/12/2019) (Tribunsumselwiki/Linda)

"Untuk penjualan kita masih secara langsung ke customer, jadi sesuai permintaan saja. Yang order ada dari Amerika, Singapura dan lain-lain. Dengan adanya permintaan dari luar negeri artinya juga mengenalkan jumputan ke kanca dunia dan ini kesempatan yang baik bagi para pengrajin kain khas Palembang," ungkap Anggi yang merupakan lulusan Politeknik Teknologi Kimia Industri Medan.

Ia pun menjelaskan jumputan ini dibuat melalui beberapa proses yaitu dilukis dengan pola-pola khas Palembang.

Kemudian melalui tahapan proses ikat-jahit.

Terakhir proses pencelupan dengan pemilihan warna alami.

Untuk proses pencelupan dengan pewarna alami ini akan semakin bagus apabila sering dicelupkan, paling sedikit butuh 10 sampai 20 kali pencelupan agar hasilnya bagus.

Pewarna alami yang digunakan seperti Gambir, serbuk Mahoni, serat Secang, daun Indigo Vera dan lain-lain.

Bahan Gambir menghasilkan warna hitam orange, hijau, lumut dan kuning.

Selain itu, menggunakan Tegaran bisa menghasilkan warna kuning dan cokelat.

Serbuk Mahoni menghasilkan warna cokelat muda dan krem.

Serat Secang menghasilkan warna pink, ungu dan peach.

Fermentasi Daun Indigo Vera menjadi warna biru dan hijau.

Menurut wanita berusia 29 tahun ini, proses pembuatan jumputan oleh seorang yang sudah mahir butuh waktu satu minggu.

Namun untuk yang masih belajar butuh waktu hingga 2 minggu.

Kain khas Palembang berupa jumputan ini punya ciri khas tersendiri yang terlihat dari cara pembuatannya dan bahan pewarna yang digunakan.

Tags
NASA
Ikuti kami di
KOMENTAR
56 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved