Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo

Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo merupakan salah satu masjid tertua di Kota Palembang.

Tribunsumselwiki/Linda
Masjid Agung Palembang 

TRIBUNSUMSELWIKI.COM - Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I yang dikenal pula dengan sebutan Jayo Wikramo merupakan salah satu masjid tertua di Kota Palembang.

Masjid Agung Palembang ini merupakan bagian peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam.

Lokasi

Secara administratif Masjid Agung Palembang berada di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, nomor I.

Tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang.

Sejarah Masjid Agung

Peletakan batu pertama Masjid Agung Palembang pada tahun 1738, dan peresmiannya pada hari Senen 28 Jumadil Awal 115 H atau 26 Mei 1748.

Masjid Agung ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, Jayo Wikramo.

Masjid Agung ini berada di Utara Istana Kesultanan Palembang, di belakang Benteng Kuto Besak (BKB) yang berdekatan dengan aliran Sungai Musi.

Lalu pada tahun 1819 dan 1821 dilakukan pemugaran masjid akibat peperangan besar yang berlangsung selama lima hari berturut-turut.

Pebaikan masjid dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Atap genteng diganti dengan atap sirip dan tinggi menara ditambah.

Lahan yang dijadikan areal kawasan masjid merupakan wakaf dari Sayyid Umar bin Muhammad Assegaf Althoha dan Sayyid Achmad bin Syech Shahab.

Kemudian nama Masjid Sultan diubah menjadi Masjid Agung.

Bagian dalam Masjid Agung Palembang
Bagian dalam Masjid Agung Palembang (Tribunsumselwiki/Linda)

Menara Masjid

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (masa pemerintahan 1758-1774) menara masjid dibangun.

Lokasi menara masjid terpisah dari bangunan utama, dan berada di bagian barat.

Pola menara masjid berbentuk segi enam setinggi 20 meter.

Rupa menara masjid menyerupai menara kelenteng.

Bentuk atap menara melengkung pada bagian ujung, dan beratap genteng.

Lalu menara masjid memiliki teras berpagar yang mengelilingi bangunan menara.

Kemudian pada tanggal 22 Januari 1970 dimulai pembangunan menara baru yang disponsori oleh Pertamina.

Menara baru ini setinggi 45 meter, mendampingi menara asli yang bergaya Cina.

Renovasi Masjid Agung diresmikan pada 1 Februari 1971.

Perluasan Masjid Agung

Perluasan pertama Masjid Agung Palembang dilaksanakan pada tahun 1897 oleh Pangeran Nata Agama Karta Manggala Mustofa Ibnu Raden Kamaluddin.

Lalu pada 1916 bangunan menara masjid disempurnakan.

Kemudian pada tahun 1930, dilakukan perubahan struktur pilar masjid yakni menambah jarak pilar dengan atap menjadi 4 meter.

Pada kurun tahun 1966-1969 dibangun lantai 2.

Masjid tersebut memiliki luas 5.520 meter persegi dengan daya tampung 7.750 jemaah.

Kemudian di renovasi kembali sehingga daya tampungnya menjadi 15.000 jemaah.

Bagian belakang Masjid Agung Palembang
Bagian belakang Masjid Agung Palembang (Tribunsumselwiki/Linda)

Bangunan Asli Masjid

Bangunan asli masjid berbentuk bujur sangkar dengan atap Limas bersusun, ornament atapnya bergaya khas Palembang dipadukan sentuhan Cina.

Atapnya berundak dengan Limas di puncaknya disebut dengan Mustaka.

Disebut demikian karena atap yang teratas terpisah dari atap di bawahnya yang ditopang oleh tiang-tiang di atas tanah.

Bentuknya lalu seperti kepala dan tubuh yang terpisah dari leher.

Mustaka atau kepala Jurai kelompok Simbar yang dipasang pada atap Masjid ada sebanyak 13 buah di setiap sisinya.

Bentuk Mustaka terjuntai dan melengkung ke atas terdapat pada keempat ujungnya.

Masjid Agung Palembang mempunyai gerbang serambi masuk sebanyak 3 buah, yang merupakan gapura masuk dari bagian timur, selatan, dan utara.

Bagian dalam Masjid Agung Palembang
Bagian dalam Masjid Agung Palembang (Tribunsumselwiki/Linda)

Restorasi dan Renovasi

Pada Jumat tanggal 10 September 1999 pukul 10.00 WIB, menjadi langkah awal yang penuh sejarah yaitu dengan dimulainya pengerjaan restorasi dan Renovasi Masjid Agung Palembang.

Restorasi dan renovasi ini dilakukan oleh Gubernur Laksamana Muda Haji Rosihan Arsyad, dengan Ketua Umum Pengurus Yayasan Masjid Agung pada saat itu adalah Prof. Dr. Kiagus Haji Oejang Gajah Nata, DABK dengan sekretaris dipegang oleh Raden Haji Muhammad Saleh Dion.

Pelaksanaan renovasi ditandai dengan penurunan genting dari atap masjid oleh Gubernur Sumsel diikuti Walikota Palembang H. Husni dan Imam Besar Masjid Agung Palembang Al Mukarroma Kiagus Haji Muhammad Zen Syukri.

Restorasi dan renovasi ini dilakukan dengan menambah tiga bangunan yaitu bangunan arah selatan dan bangunan arah utara, bangunan tiga lantai diarah timur serta bangunan kubah.

Sekarang bangunan utara ada serambi dalam berbentuk U seluas 4,20 meter persegi dan setelah direnovasi menjadi 9 meter persegi.

Lalu kalau sebelumnya jurai pada setiap sisi atap jumlahnya tidak sama, maka kini sudah disamakan sebanyak 11 jurai.

Lalu untuk lantainya yang semula dari batu tehel merah menjadi batu granit.

Daya tampung yang dulunya 8.500 jamaah kini menjadi 15.000 jamaah.

Status Majid Agung

Setelah direnovasi Masjid Agung Palembang diresmikan oleh Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada 16 Juni 2003.

Berselang satu bulan kemudian dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Agama RI nomor: MA/233/2003 tanggal 23 Juli 2003 yang menetapkan status Masjid Agung Palembang sebagai Masjid Nasional dan sebagai warisan budaya masa lalu.

Masjid Agung juga dilindungi oleh undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang cagar budaya serta surat peraturan menteri nomor: PM.19/UM.101/MKP/2009 tentang penetapan objek vital Nasional bidang kebudayaan dan pariwisata.

Tempat wudhu Masjid Agung Palembang
Tempat wudhu Masjid Agung Palembang (Tribunsumselwiki/Linda)

Visi

Menjadikan Masjid Agung Palembang sebagai Masjid Teladan dan menjadi pusat pembinaan umat serta ukhuwah islamiyah di Sumsel sebagai Masjid Agung Nasional.

Misi

• Menjadikan Masjid Agung Palembang sebagai percontohan bagi masjid-masjid lain diwilayah Sumsel.

• Melalui Masjid Agung Palembang meningkatkan mutu kehidupan umat secara terpadu dalam hubungan dengan Allah dan sesama manusia berdasarkan faham Islam Ahlussunah Waljamaah dalam bidang aqidah dan Mazhab Syafe'i dalam bidang fiqih khususnya pelaksanaan peribadatan.

• Menjadikan Masjid Agung Palembang sebagai wahana pemberdayaan masyarakat ber Akhlaqul Karimah untuk peningkatan kesejahteraan umat.

• Membina dan meningkatkan peran serta generasi muda dalam memakmurkan Masjid Agung Palembang sebagai kader penegak kemajuan umat.

• Menjadikan Masjid Agung Palembang sebagai wadah untuk meningkatkan ukhuwah antar ulama, Umaroh, umat dan masyarakat luas.

Menara Masjid Agung Palembang yang menyerupai menara kelenteng
Menara Masjid Agung Palembang yang menyerupai menara kelenteng (Tribunsumselwiki/Linda)

Info detail

Nama : Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo

Nick name : Masjid Agung Palembang

Alamat : Jalan Jendral Sudirman nomor 1

Kelurahan : 19 Ilir

Kecamatan : Ilir Barat I

Kota : Palembang

Provinsi : Sumatera Selatan

Kode pos : 31032

Telepon : 0711 319767 / 0711 350332

Operasional : Buka 24 jam

Sumber : Ketua Pengurus Yayasan Masjid Agung Palembang atau Masjid Agung SMB Jaya Wikramo Ir. Kgs. H. Ahmad Sarnubi

Ikuti kami di
KOMENTAR
53 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved