Bukit Siguntang

Bukit Siguntang merupakan situs keagamaan pada masa Sriwijaya. Bukit BSiguntang menjadi wisata ziarah yang dilakukan baik perseorangan atau rombongan.

Tribunsumselwiki/Linda
Tangga menuju Bukit Siguntang 

Seorang pendeta Buddha China yang bernama I-Tsing dalam perjalanan ke India pernah tinggal di Sriwijaya untuk mempelajari bahasa Sansekerta selama enam bulan.

Dari Sriwijaya ini I-Tsing menuju ke Kerajaan Melayu dan tinggal di sana selama enam bulan, sebelum berangkat ke Kedah dan India.

Dalam perjalanan pulang ke China pada tahun 685 dia singgah di Kerajaan Melayu, yang sudah ditaklukkan oleh Sriwijaya (tahun 645-685 M).

Kerajaan Sriwijaya dan Melayu mulai pudar karena serangan Majapahit tahun 1365.

Selanjutnya orang-orang Jawa menguasi daerah ini.

Namun bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa pengantar di Nusantara sejak disebarkannya oleh kerajaan Sriwijaya dan Melayu sejak abad keenam.

Nama Bukit Siguntang sudah dikenal sejak lama, terbukti dengan penyebutannya dalam kitab sejarah Melayu yang ditulis pada tanggal 13 Mei 1612.

Dalam kitab tersebut dituliskan "Asapun negeri Palembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka Dihulu Sungai Tatang ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada bukit bernama Bukit Siguntang; di hulu Gunung Maha Miru, di daratnya ada satu padang bernama Padang Penjaringan. Maka ada dua orang perempuan berladang, Wan Empo seorang namanya dan Wan Malini seorang amanya; dan keduanya berumah di Bukit Si Guntang itu, terlalu luas humanya, syahadan terlalu jadi padanya, tiada dapat terkatakan; telah Gamper masak padi itu".

Arca-arca yang ada di Bukit Siguntang.
Arca-arca yang ada di Bukit Siguntang. (Tribunsumselwiki/Linda)

Peranan Siguntang Pada Masa Kerajaan Palembang

Selain sebagai tempat peribadatan dan perziarahan, peran penting Bukit Siguntang juga tercatat dalam "Kitab Sejarah Melayu" yaitu sebagai tempat asal usul raja-raja Melayu di Nusantara, baik yang ada di Indonesia, Sumatera Khususnya, maupun raja-raja yang pernah berkuasa di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Patani, Thailand Selatan.

Bahkan pada masa Sultan Mahmud Badaruddin bin Sultan Bahauddin, Bukit Siguntang pernah dijadikan tempat pengambilan sumpah bagi penduduk yang sedang bertikai, agar berdamai.

Adapun lokasi dilakukannya persumpahan tersebut adalah di makam raja Sebentar Alam (Sevenhoven).

Tangga menuju Bukit Siguntang
Tangga menuju Bukit Siguntang (Tribunsumselwiki/Linda)

Bukit Siguntang Dalam Sejarah Melayu dan Wisata Ziarah

Bukit Siguntang menjadi wisata ziarah yang dilakukan baik perseorangan atau rombongan dengan berkunjung ke makam-makam orang suci atau orang-orang terkenal dan pimpinan yang diagungkan.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan restu, berkah, kebahagiaan dan ketentramaan.

Hal ini disebabkan karena Bukit Siguntang dikeramatkan oleh sebagian kelompok masyarakat yang percaya terhadap makam keturunan raja-raja Sriwijaya, antara lain Segentar Alam, Puteri Kembang Dadar, Puteri Rambut Selako, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang, Panglima Tuan Junjungan, Pangeran Raja Batu Api, dan Panglima Jago Lawang.

Segentar Alam merupakan sosok yang dianggap perkasa keturunan Iskandar Zulkarnain.

Dirinya merupakan pembawa petuah yang berhasil membawa kemakmuran dan kejayaan bagi wilayahnya.

Tidak jauh dari makam Segentar Alam terdapat makam Puteri Kembang Dadar yang dipercaya adalah anak Segentar Alam.

Secara etimologi, nama Puteri Kembang Dadar berasal dari tiga kata yaitu Puteri yang dapat diartikan sebagai panggilan kehormatan bagi seorang perempuan.

Ikuti kami di
KOMENTAR
32 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved